Refleksi Dari Taman Getsemani (Matius 26:36-46)

Setiap kita tidak akan pernah melupakan kisah Yesus di taman Getsemani sebelum Dia ditangkap dan disalibkan. Apa yang anda ketahui tentang taman Getsemani? Konon katanya taman ini sering diidentikkan dengan 4 S. Pertama, Sunyi. Suasana di Taman Getsemani sangat tenang karena jauh dari keramaian. Kesunyian yang ada sangat mendukung untuk melakukan kegiatan berdoa. Bukankah kita memerlukan ketenangan agar dapat berdoa kepada Tuhan? (band. 1 Ptr. 4:7). Kedua, Sejuk. Lokasinya terletak di kaki Bukit Zaitun, arah timur dari kota Yerusalem melewati lembah Kidron. Keindahan taman Getsemani dibarengi dengan udaranya yang sejuk oleh karena angin perbukitan serta banyaknya pohon Zaitun yang tumbuh subur di situ. Hingga kini masih ada pohon Zaitun tua di taman ini yang usianya sudah berkisar 900 tahun. Bila pada siang hari pohon-pohon di sekitar taman akan berfotosintesis sehingga kian menciptakan kesejukan di sekitarnya. Ketiga, Suci. Semasa hidup di dunia Yesus sering berada di taman Getsemani untuk merenung dan berdoa (lihat Luk. 22:39). Karena taman ini sering dipakai sebagai tempat berdoa (Mat. 26:36), maka masyarakat beranggapan bahwa taman ini adalah tempat suci, malah ada yang mensakralkannya. Taman ini juga merupakan tempat di mana Yesus menghabiskan malam terakhir saat menjalani masa terpedih dalam kehidupan-Nya. Keempat, Stress. Nama Getsemani berarti: “alat memeras zaitun”. Berasal dari kata Ibrani גת שמנים (Gat-Šmânim). “Gat” artinya: “alat memeras” dan “Smanim” artinya: “zaitun”. Selaras dengan arti namanya, yaitu: alat memeras atau pengirik, maka Getsemani sering dijadikan lambang pencobaan yang sangat menekan (band. Yes. 63:2-3). Ketika pencobaan yang sangat menekan melanda, biasanya orang-orang Israel pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa menyerahkan beban persoalan (stress) kepada Tuhan. Melalui kisah Yesus di taman Getsemani marilah kita menarik pelajaran rohani yang berharga sehingga makna peristiwa Paskah kian kita pahami secara utuh dan seksama. 1. Bersikap Realistis (ayat 36-37). Dalam sejarah perjalanan hidup-Nya, Yesus “akrab” dengan berbagai permasalah. Fitnah, penolakan, penentangan, penghianatan, upaya pembunuhan dan beragam persoalan lainnya menjadi pernak pernik kehidupan yang harus dijalani-Nya. Uniknya, dalam menghadapi ragam persoalan yang terjadi, Yesus tidak pernah menggunakan kuasa Ilahi-Nya, tetapi dihadapi secara manusiawi agar para pengikut-Nya bisa berlaku hal sama seperti diri-Nya. Yesus bersikap realistis ketika mengalami pergumulan. Ia tidak menutupi kelemahan-Nya dan juga tidak berlaku seperti seorang manusia rohani yang perkasa. Sikap yang diperlihatkan-Nya hendak memberi suatu kesadaran bagi kita agar bersikap hidup secara realistis di tengah dunia nyata. Hai itu dapat dilihat di mana Yesus secara terus terang mengungkapkan kepada murid-murid-Nya perihal kondisi diri-Nya. Tanpa perasaan malu Yesus membeberkan perihal “kesedihan hati-Nya” (ayat 37-38), “rasa gentar” (ayat 37) bahkan “seperti mau mati rasanya" (ayat 38). Semuanya itu membuktikan ketulusan untuk mengakui kelemahan secara jasmani kala menanggung pergumulan yang sedang dialami. Dan saya meyakini bahwa ekpresi yang terlihat pada wajah dan penampilan Yesus tentulah selaras dengan suasana batin yang dialami-Nya pada saat itu. Ironisnya, kita malah bersikap kebalikannya. Kita menutupi kenyataan yang ada. Kita tidak sudi terlihat lemah dan lelah. Kita bersikap seperti malaikat, padahal kita manusia biasa. Kita tidak tulus, tetapi bulus. Kenapa kita bersikap seperti itu? Karena kita memiliki konsep dan paradigma keliru. Kita takut dianggap lemah, padahal kelemahan jasmani adalah alami. Yesus lemah secara jasmani tetapi tidak lemah secara rohani. Begitu pula yang diperlihatkan oleh rasul Paulus. Ketika mengalami penderitaan, Paulus tidak menutup-nutupi keberadaan manusia lahiriahnya yang semakin merosot, namun manusia batiniahnya dibaharui dari hari ke sehari (2 Kor. 4:16). Paulus malah akan bermegah atas kelemahannya (2 Kor. 11:30; 12:5). Bahkan secara terus terang, ia berkata, jika aku lemah maka aku kuat (2 Kor. 12:10 band. Ibr. 11:34). Realistislah dengan realita yang tengah melanda. 2. Berbagi Beban (ayat 38). Ketika mengalami pergumulan berat, Yesus membutuhkan teman untuk berbagi beban. Tampaknya, Petrus dan kedua anak Zabedeus (ayat 37) adalah teman yang diperlukan oleh Yesus untuk berbagi beban. Yesus meminta agar mereka menemani dan saling memperhatikan (ayat 38). Hal ini menunjukkan bahwa teman dapat menjadi tempat untuk berbagi beban atau istilah polulernya, “teman curhat” alias teman curahan hati. Tampaknya, prinsip psikologi dan sosiologi ditekankan oleh Yesus dalam hal ini. Dalam kodrat sebagai manusia sangatlah wajar bila antar manusia saling menguatkan dan menghibur satu sama lain, terlebih dalam keadaan susah dan duka. Yesus pernah mengecam orang-orang Farisi karena “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya” (Mat. 23:4). Rasul Paulus membedakan pola hidup penganut Kristus dengan penganut Legalisme, yang cendrung menolak beban dan menambah beban bagi orang-orang lain (Kis. 15:10). Dan itulah yang diajarkan oleh Alkitab sebagai pola hidup orang Kristen, yaitu prisip “saling” atau “seorang akan yang lain” (Yoh. 13:34; 15:12; Rm. 14:19; 1 Kor. 12:25-26; 1 Tes. 5:11; Yak. 5:16). Perihal “beban” dan “tanggungan” pribadi diuraikan oleh Paulus secara gamblang dalam Galatia 6:1-5. Kata “beban” berasal dari kata benda Yunani βαρος (baros) yang berarti: “beban yang berat” (Gal. 6:2), sedangkan kata “tanggungan” berasal dari kata φορτιον (phortion), yang menggambarkan “ransel prajurit” (Gal. 6:5). Orang Kristen harus bertolong-tolongan menanggung “beban yang berat” dalam hidup ini (Gal. 6:2), tetapi sebagai prajurit Kristus harus memikul “ransel” atau tanggung jawab sendiri. Sebagai contoh, bila mobil saya mogok, teman seiman saya dapat menolong untuk mengantarkan anak saya ke sekolah. Tetapi ia tidak dapat memikul tanggung jawab saya sebagai seorang bapak. Bila saya terkena radang tenggorokan, majelis gereja dapat mengantikan saya berkotbah, tetapi ia tidak dapat menanggung tanggung jawab saya sebagai gembala sidang. Tujuan berbagi beban bukan untuk menghilangkan beban atau melepaskan tanggung jawab, melainkan meringankan beban. Tidak ada yang salah dalam berbagi beban. Dan tidak pula mengindikasikan sebagai sesorang yang lemah atau belum dewasa rohani. Yang perlu dicermati dalam berbagi beban adalah motivasi. Kita berbagi beban bukan minta belas kasihan agar dapat bantuan material. Kita juga harus bijaksana dalam berbagi beban. Kepada siapa dan bagaimana sebaiknya kita berbagi beban harus diperhatikan. Janganlah sampai salah memilih teman untuk berbagi beban, apalagi dia belum dewasa secara rohani karena bisa runyam kita nantinya. 3. Berani Menghadapi Pergumulan (ayat 39-42). Yesus tidak lari atau menghindar dari pergumulan yang dialami. Ia juga tidak bersikap acuh atau tidak mau tahu, melainkan menerima kenyataan sebagai bagian dari dinamika kehidupan. Ia lebih berfokus kepada kehendak Bapa daripada kehendak-Nya secara pribadi (lihat 39, 42). Menarik untuk dicermati perihal Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” (ayat 39a). Perkataan Yesus dalam hal ini tidak mengindikasikan sebagai suatu penolakan atau pembangkangan karena secara tegas Ia berkata, “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (ayat 39b). Dalam keberadaan-Nya sebagai Tuhan yang sejati sekaligus sebagai manusia yang sejati, sangatlah beralasan bila Yesus berkata seperti itu. Hakekat dosa adalah sesuatu yang dibenci oleh Tuhan dan bertentangan dengan hakekat keilahian-Nya. Karena itu wajarlah bila Yesus minta cawan dosa itu dilalui daripada-Nya. Dan dalam keberadaan sebagai manusia adalah hal yang alami bila penderitaan badani itu berlalu daripada-Nya, karena tak seorangpun yang mau untuk menderita, tetapi bukan berarti tidak mampu untuk menderita. Dengan “meminum cawan” atau mati di kayu salib maka, Yesus “yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita” (band. 2 Kor. 5:21). Penghinaan dan penderitaan salib memang sangatlah menakutkan, tetapi tidak membuat Yesus mundur dan gugur dalam misi penyelamatan atas manusia berdosa. Kesadaran akan “misi penyelamatan” serta “kehendak Allah yang harus terjadi,” maka Yesus sepenuhnya berserah kepada otoritas Bapa-Nya. Selain berjuang dengan pergumulan yang berat, kisah Getsemani memberi gagasan tentang ketaatan dari seorang Anak yang taat akan kedaulatan Bapa-Nya. Yesus mengetahui secara pasti bahwa kehendak Bapa selalu mendatangkan kebaikan, walaupun secara manusiawi rasanya sulit untuk menerima dan menanggungnya. Ungkapan, “Lihatlah, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa” (ayat 45), mengacu kepada kesiapan mental dan kerelaan hati Yesus untuk menghadapi kenyataan pahit yang harus dialami-Nya. Ia tidak bersungut-sungut atau lari dari persolan yang ada. Ia bersedia untuk menanggungnya sebagai suatu tanggung jawab, meskipun hal itu membuat Ia sangat menderita. Manusia cendrung menghindar dari persoalan atau pergumulan yang tengah terjadi. Mereka mencari penyelesaian masalah dengan pergi ke nite club, mengkonsumsikan Narkoba, menenggak Alkohol atau alternatif penyelesaian dengan cara berdosa. Kenyataannya, cara yang ditempuh bukan malah menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya menambah masalah. Kebanyakan manusia sering marah dan tidak menerima kenyataan yang dialami, sehingga menjadi frustasi, depresi bahkan ada yang nekad untuk bunuh diri. Tragis sekali! Hadapilah segala pergumuluan hidup ini dengan penuh keberanian, tentu dengan sikap bersandar sepenuhnya kepada Tuhan yang akan memberi kepada kita kekuatan untuk menanggungnya. Selamat menyambut Paskah. Tuhan memberkati kita sekalian.

Komentar

Postingan Populer