Back Cegah Kekerasan Verbal Dalam Rumah Tangga

Kekerasan dalam rumah tangga bukan kekerasan fisik saja tetapi yang lebih mengerikan jika terjadi kekerasan secara verbal bukan hanya dalam rumah tetapi juga di publik. Sebagai bidan beberapa kali saya pernah menulis tentang hidup berkeluarga. Bagaimana menjadi keluarga yang saling menjaga mutiara kehormatan dalam rumah tangga. Tak ada kesempurnaan dalam perjuagan menjaga keutuhan sebuah rumah tangga. Menyampaikan beberapa hal berkaitan tentang masalah dalam hidup berkeluarga memang salah satu tugas pendampingan seorang bidan secara komprehensif. Tak jarang pasien datang dengan keluhan pusing, setelah di periksa semua normal. Pasien bidan adalah para ibu. Maka kadang setelah pemeriksaan mereka hanya ingin “curhat” . Menjadi pendengar yang baik juga membuat bidan belajar banyak bahkan persoalan lebih kompleks daripada sekedar teori dalam kuliah psikologi kebidanan. Jatuh bangun dan terus menerus cobaan silih berganti. Hidup berkeluarga bukanlah sebuah sinetron sebagaimana tayangan di televisi. Manakala usai sesi shooting maka usai pula sebuah sinetron tentang keluarga . Baik itu tayangan keluarga harmonis maupun keluarga yang bermasalah. Sebenarnya untuk mengatasi konflik dalam sebuah relasi berumah tangga baik bila dibicarakan dengan penuh kerelaan hati dan salah satu pihak mau mengalah. Dibicarakan cukup berdua. Hindari melibatkan orang ketiga yang tidak netral. Bila memang perlu pihak ke tiga maka carilah penasehat perkawinan yang kompeten. Satu pertanyaan mengemuka, bagaimana dengan perkawinan yang mengalami kekerasan tidak tampak dari fisik, seperti contoh kekerasan secara verbal. Kekerasan dalam kata - kata terlebih bila sampai menyakitkan pasangan dan menyebabkan pembunuhan karakter seseorang yang kita cintai. Dalam psikologi perkawinan disebutkan memang diperlukan kematangan emosional untuk dapat mempertahankan ikatan sebuah rumahtangga. Antara lain : Kasih sayang; setiap masing - masing pribadi memiliki rasa kasih sayang yang dalam dan dapat diwujudkan dengan wajar pada pasangannya. Emosi terkendali, setiap masing masing pribadi mampu mengendalikan perasaannya terutama pada pasangannya, Tidak mudah menyakiti pasangan baik secara verbal / kata kata maupun secara fisik. Misal saat marah, cemburu dan ingin mengubah pribadi pasangannya. Emosi terbuka lapang, setiap masing - masing pribadi mau dan mampu menerima kritik dari pasangan sehubungan dengan kelemahannnya demi pengembangan diri dan kepuasan pasangannnya. Emosi terarah,Setiap masing masing pribadi dengan kendali emosinya yang tenang dapat mengarahkan ketidakpuasan dan konflik dengan cara penyelesaian yang kreatif dan konstruktif (sumber ; psikologi ibu dan Anak ) Semakin baik pengelolaan emosi dan saling belajar memahami antara suami istri dalam kehidupan perkawinan , maka besar harapan bahwa kelanggengan akan sebuah pernikahan yag suci dapat dipertahankan. Bidan bukan hanya mengurus tentang soal kelahiran, kami juga punya tanggung jawab dalam peranan konseling bagi keluarga - keluarga. Dengan memberikan konseling agar setiap keluarga mampu menyelesaikan masalah sekecil apapun yg dapat mengganggu kehidupan rumah tangga, membantu mempersiapakan pasangan yang akan menikah dengan terlibat dalam pemberian pengetahuan kesehatan wanita, pemberdayaaan sebagai istri sekaligus perempuan pendamping yang sejati dan ibu yang siap fisik maupun mental spiritual. Dunia pelayanan kebidanan tak pernah jauh dari keluarga keluaraga, bahkan keluarga yang belum siap untuk pegang kemudi. galau dalam mengarungi bahtera rumah tangga hingga keluarga yang mulai terombang ambing bahteranya. Kendati bidan - bidan itu bukan seorang psikolog, kami para bidan ada di tengah mereka dan hampir 24 jam praktek bidan di antara masyarakat. Pesan para bidan untuk kelurga - keluarga agar dapat mengatasi konflik rumah tangga dengan cara yang konstruktif dan kreatif, ingat masa masa kalian jatuh cinta dulu. Apa sih yang membuat pasangan anda begitu berharga hingga kita memilihnya menjadi belahan hati dan belahan jiwa. Hindari pembunuhan karakter antar pasangan suami istri bukan hanya secara fisik tapi juga verbal / kata kata yang menyakitkan. Coba ambil waktu untuk retret pasutri bagi pasangan yang kristiani dan bagi pasangan yang muslim bisa datang berkonsultasi pada Ustad yang dipercaya. Begitu juga bagi pasangan agama lain bisa minta tolong pemuka agamanya untuk berkonsultasi dan memperbaharui janji pernikahan. Sangat baik bila dapat ambil waktu untuk merenungkan kembali sejauh mana niat dan tujuan perkawinan yang mulia telah diperjuangkan. Ombak dan badai ibarat sebuah ujian cinta dalam perkawinan. Tak ada ombak yang tenang di lautan, ombak juga diperlukan untuk lajunya bahtera , dan percayalah bukan hanya ombak , bahkan badaipun dapat kita hadapi agar perkawinan langgeng asal saling rendah hati mau minta maaf dan menyatukan kembali tujuan suci niat perkawinan. Salam hangat Bidan Romana Tari

Komentar

Postingan Populer